Cara memutihkan kulit dengan mudah dan alami

 

Cara memutihkan kulit dengan mudah dan alami adalah keinginan bagi setiap mereka yang tentunya berkulit tidak putih.

 

Kebanyakan orang menggunakan cara memutihkan ulit yang salah, contohnya dengan tidak mau kemana-mana atau berdiam diri di rumah sehingga efeknya justru membuat tubuh tidak sehat karena akibat kurangnnya gerak yang dilakukan oleh tubuh.

Cara memutihkan kulit dengan mudah dan simple adalah dengan cara berikut:

 

 

Menggunakan bahan-bahan alami sebagai ramuan untuk memutihkan kulit sangatlah banyak sekali dan salah satu kelebihan bahan alami adalah keamanan kulit tetap terjaga karena tidak memiliki efek samping, namun tetap terbukti ampuh untuk memutihkan kulit.

 

Menggunakan bengkoang, caranya sangat mudah cukup ambil 1-2 bengkoang kemudian kupas dan cuci bersih lalu diparut hingga halus. Ektrak bengkoang hasil parutan tersebut jadikan sebagai masker wajah selama 10 menit, lalu bilas dengan air bersih. Lakukan hal ini pada saat sebelum tidur dan bangun tidur. Lakukan secara rutin setiap hari selama 4 minggu untuk melihat hasilnya.

 

Menggunakan campuran madu dan lemon, salah satu manfaat madu adalah memutihkan kulit dan itu akan lebih optimal jika dicampur dengan lemon. Caranya adalah ambil 1-2 sendok madu kemudian campurkan dengan 1 sendok ekstrak lemon lalu aduk hingga rata. Cara pemakaiannya adalah dengan mengusapkan campuran tersebut kepada bagian wajah dan diamkan selama 10 menit lalu bilas dengan air putih bersih dan keringkan dengan handuk. lakukan dengan rutin untuk hasil maksimal.

 

Menggunakan Alpukat, kandungan vitamin dalam alpukat sangat baik untuk kecantikan kulit. Caranya tinggal ambil alpukat yang sudah matang lalu kupas kulitnya keudian haluskan menjadi ekstrak. Oleskan ekstrak alpukat tersebut ke bagian wajah lalu biarkan hingga 10 menit kemudian bilas dan keringkan. Lakukan secara rutin dan teratur untu hasil optimal.

 

 

 

Demikian beberapa cara memutihkan kulit dengan mudah, anda bisa mencobanya karena bahan-bahanya juga sangat mudah diperoleh. Selain udah putih pada kulit anda akan lebih sehat, karena bahan yang terbilang cukup alami tanpa kontaminasi kimia buatan yang berbahaya dalam jangka panjang. Selamat mencoba !

 

Critical Journal Indonesia “Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Minat Bidan Mengikuti Uji Kompetensi di Kota Semarang Tahun 2007”

 

“LITERATURE REVIEW”

PENGARUH PENGETAHUAN, SIKAP DAN MOTIVASI TERHADAP MINAT BIDAN MENGIKUTI UJI KOMPETENSI DI KOTA SEMARANG TAHUN 2007

 

Metode Pencarian Literatur:

–                                                                                                                                    Database yang digunakan                  : PORTAL GARUDA (http://garuda.kemdiknas.go.id)

–          Kata kunci pencarian                          : Uji Kompetensi Bidan

–          Jumlah literatur yang didapatkan        :  34225

 

Abstrak

Konteks:

Uji kompetensi OSCA (Objective Structure Clinical Assesmenrt) adalah suatu metode untuk mengevaluasi pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku tenaga profesi kesehatan. Berdasarkan rekapitulasi data MTKP (Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi) Jawa Tengah sampai dengan Juni 2006, dari 469 bidan yang berlatar belakang pendidikan minimal D3 kebidanan terdapat 53 orang (11,3%) yang sudah mengikuti uji kompetensi OSCA.

 

Tujuan:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel pengetahuan, sikap dan motivasi mempengaruhi minat bidan mengikuti uji kompetensi (OSCA) di kota Semarang.

 

Pengaturan dan Desain:

Jenis penelitian yang digunakan adalah observasi dengan metode penelitian survey dan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dengan metode Simple Random Sampling, dengan kriteria inklusi sebagai berikut: bidan yang bekerja di wilayah kota Semarang, bidan yang memberikan praktik pelayanan asuhan kebidanan, bidan yang belum pernah mengikuti uji kompetensi OSCA dan mempunyai latar belakang pendidikan minimal D3 kebidanan.

 

Hasil Penelitian:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki minat yang rendah untuk mengikuti uji kompetensi OSCA lebih banyak (59,3%) dibandingkan dengan yang memiliki minat tinggi yaitu sebanyak 40,7%. Faktor yang berhubungan dengan minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA adalah pengetahuan (nilai r: 0,297 dan p value: 0,001), sikap (nilai r: 0,273 dan p value: 0,001) dan motivasi (nilai r: 0,202 dan p value: 0,019) yang berarti ada hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA.

 

Kesimpulan:

Pengetahuan dan sikap mempunyai pengaruh positif terhadap minat mengikuti uji kompetensi OSCA.

 

Saran:

Saran yang diberikan adalah untuk meningkatkan minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA perlu ditingkatkan upaya-upaya peningkatan pengetahuan tentang uji kompetensi OSCA yang dapat menumbuhkan sikap bidan yang lebih baik terhadap uji kompetensi OSCA.

 

Key word: Bidan, uji kompetensi OSCA

 

Deskrpsi Umum Jurnal

Judul                                : Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Minat Bidan Mengikuti Uji Kompetensi di Kota Semarang Tahun 2007

Penulis                         : Rahmah Nur Hayati

Publikasi                      : portal garuda(http://eprints.undip.ac.id/18812/)

Penelaah                      : Widiastuti Endah Febrianti (P 27224012085)

Tanggal Telaah            : 28 Juni 2012

 

  1. Deskripsi Jurnal
    1. Tujuan Utama Penelitian

Untuk mengetahui apakah variabel pengetahuan, sikap dan motivasi mempengaruhi minat bidan mengikuti uji kompetensi (OSCA) di Kota Semarang.

  1. Hasil Penelitian

Responden yang memiliki minat yang rendah untuk mengikuti uji kompetensi OSCA lebih banyak (59,3%) dibandingkan dengan yang memiliki minat tinggi (40,7%). Faktor yang berhubungan dengan minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA adalah pengetahuan (nilai r: 0,297 dan p value: 0,001), sikap (nilai r: 0,273 dan p value: 0,001) dan motivasi (nilai r: 0,202 dan p value: 0,019) yang berarti ada hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA.

  1. Kesimpulan Penelitian

Pengetahuan dan sikap mempunyai pengaruh positif terhadap minat mengikuti uji kompetensi OSCA.

 

  1. Telaah Jurnal
    1. Fokus Utama Penelitian

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur ketercapaian derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Angka kematian ibu (AKI) Propinsi Jawa Tengah tahun 2004 berdasarkan hasil Survey Kesehatan Daerah adalah sebesar 155,22 per 100.000 kelahiran hidup1. Jumlah ibu maternal di kota Semarang tahun 2005 sebanyak 13 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 27.6212. Kematian tersebut rata-rata terjadi di pelayanan rujukan Rumah Sakit akibat keterlambatan rujukan dari pelayanan dasar Bidan Praktek Swasta.

Bidan diwilayah kota Semarang sebagian kecil saja yang sudah mengikuti uji kompetensi OSCA. Hal ini dapat dilihat pada hasil rekapitulasi MTKP (Komite Bidan). Sampai dengan bulan Juni tahun 2006, diantara bidan di Kota Semarang terdapat 53 orang (11,3%) yang telah mengikuti uji kompetensi OSCA.

Dari hasil supervisi yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota pada tahun 2006 diperoleh informasi bahwa bidan yang tidak berminat mengikuti uji kompetensi OSCA disebabkan karena belum ada kejelasan dan kesepahaman tujuan, manfaat dan mekanisme pelaksanaan uji kompetensi OSCA. Disamping itu, mereka tidak setuju bila sertifikat uji kompetensi OSCA digunakan sebagai prasyarat penerbitan dan perpanjangan Surat Ijin Praktik Bidan (SIPB).

Berdasarkan kutipan dari bagian pendahuluan diatas diketahui bahwa kurangnya minat mengikuti uji kompetensi dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang uji kompetensi serta sikap bidan yang tidak setuju bila sertifikat uji kompetensi OSCA digunakan sebagai prasyarat penerbitan dan perpanjangan SIPB. Fokus utama penelitian cukup jelas yaitu untuk mengetahui apakah variabel pengetahuan, sikap dan motivasi mempengaruhi minat bidan mengikuti uji kompetensi (OSCA) di Kota Semarang.

  1. Elemen yang Mempengaruhi Tingkat Kepercayaan Suatu Penelitian
    1. Gaya Penulisan

–          Sistematika penulisan telah tersusun dengan baik dan jelas mulaidari judul penelitian, nama penulis, abstrak (konteks, tujuan penelitian, desain penelitian, bahan dan metode, analisis statistik, hasil, kesimpulan, dan kata kunci), pendahuluan, bahan dan metode, hasil pembahasan, kesimpulan dan refrensi.

–          Tata bahasa yang digunakan dalam penulisan jurnal ini cukup mudah dipahami sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti bagaimana penelitian tersebut dilaksanakan dan apa hasil yang diperoleh.

  1. Penulis

–          Penulis dalam penelitian ini berasal dari Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang yaitu Rahmah Nur Hayati.

–          Menurut penelaah, dengan melihat latar belakang departemen penulis berasal, penulis tersebut mempunyai kualifikasi yang cukup di bidang yang ia teliti.

  1. Judul

“Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Minat Bidan Mengikuti Uji Kompetensi di Kota Semarang Tahun 2007”

–          Judul penelitian cukup jelas, akurat, tidak ambigu, menggambarkan apa yang diteliti serta telah memenuhi prinsip 5W1H.

  1. Abstrak

Kelebihan:

–          Abstrak mampu menggambarkan secara jelas mengenai masalah penelitian, tujuan penelitian, metodologi dan hasil yang didapatkan, serta menyebutkan rekomendasi atau saran yang diberikan kepada pihak-pihak yang terkait atau berkepentingan dalam penelitian ini.

–          Memenuhi IMRAD (Introduction, Metode, Result, Analize, Discussion)

–          Mencantumkan kata kunci

Kekurangan:

–          Jumlah kata dalam abstrak melebihi 250 kata.

–          Tidak mencatumkan metode pengolahan dan analisis data yang digunakan.

–          Tidak memberikan saran yang ditujukan kepada penelitian selanjutnya.

  1. Elemen yang Mempengaruhi Kekuatan Suatu Penelitian
    1. Tujuan/Masalah Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah untuk untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat bidan dalam uji kompetensi OSCA. Pada bagian tujuan telah dijelaskan secara rinci mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi minat bidan dalam uji kompetensi OSCA beserta hubungan tiap faktor-faktor yang mempengaruhi minat bidan dalam uji kompetensi OSCA.

  1. Konsistensi Logis

Laporan penelitian telah mengikuti langkah-langkah yang seharusnya yaitu dimulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak (konteks, tujuan penelitian, pengaturan dan desain, bahan dan metode, analisis statistik, hasil, kesimpulan dan kata kunci), pendahuluan, bahan dan metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan catatan kaki.

  1. Literatur Review

–          Penyusunan literatur menggunakan sistem vancouver dan terorganisir dengan logis.

–          Penulisan jurnal menggunakan analitis kritis berdasarkan literatur yang ada dengan membandingkan temuan-temuan pada penelitian sebelumnya dengan hasil yang didapatkan oleh penulis.

Contoh kutipan Jurnal:

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur ketercapaian derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Angka kematian ibu (AKI) Propinsi Jawa Tengah tahun 2004 berdasarkan hasil Survey Kesehatan Daerah adalah sebesar 155,22 per 100.000 kelahiran hidup1. Jumlah ibu maternal di kota Semarang tahun 2005 sebanyak 13 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 27.6212.

–          Literatur yang digunakan hanya sekitar 50% literatur terbaru yang berasal dari jurnal-jurnal yang telah dipublikaikan sebelunya.

  1. Theoritical Kerangka

Baik kerangka konseptual maupun kerangka teori tidak digambarkan secara jelas dalam jurnal penelitian tersebut, namun pada bagian pembahasan, tinjauan pustaka mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi minat bidan dalam uji kompetensi OSCA pada berbagai penelitian sebelumnya dijelaskan dengan cukup rinci.

  1. Tujuan/Sasaran/Pertanyaan Penelitian/Hipotesis

Tujuan dan sasaran penelitian disebutkan secara jelas dan mencerminkan informasi yang disajikan dalam tinjauan pustaka.

“Tujuan Umum:

Untuk mengetahui apakah variabel pengetahuan, sikap dan motivasi mempengaruhi minat bidan mengikuti uji kompetensi (OSCA) di Kota Semarang.”

  1. Sampel

“berdasarkan perhitungan diketahui bahwa sampel adalah 134,9 dibulatkan menjadi 135 responden”

–          Penelitian ini dilakukan di Kota Semarang pada tahun 2006. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Simple Random Sampling dari bidan yang bekerja di kota Semarang, baik yang berstatus PNS, PTT maupun praktek swasta/mandiri. Pengumpulan data dilakukan berdasar data primer (melalui wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan kuisioner serta wawancara mendalam bidan terpilih dengan pedoman wawancara mendalam) dan data sekunder (berdasarkan data dari Dinas Kesehatan kota Semarang).

–          Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi (bidan yang bekerja di wilayah kota Semarang, bidan yang memberikan praktik pelayanan asuhan kebidanan kepada masyarakat di Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Puskesmas, praktik swasta dan praktik mandiri, bidan yang belum pernah mengikuti uji kompetensi OSCA, bidan dengan latar belakang pendidikan minimal D3 kebidanan, bersedia diwawancarai, tempat tinggal terjangkau oleh peneliti/alamat jelas)dan kriteria eksklusi (bidan yang sudah pernah mengikuti uji kompetensi OSCA dan bidan dengan latar belakang pendidikan D1 kebidanan).

–          Berdasarkan hasil perhitungan sampel yang memenuhi kriteria didapatkan kelompok sampel bidan berstatus PNS sebanyak 69 orang, PTT 3 orang, dan bidan berstatus mandiri atai swasta sebanyak 63 orang.

–          Kriteria bidan yang menjadi informan adalah bidan yang memenuhi syarat kriteria inklusi menjadi responden pada pengumpulan data kuantitatif. Bidan yang terpilih sebagai informan wawancara mendalam terdiri dari bidan rumah sakit pemerintah (2 orang), rumah sakit swasta (1 orang), rumah bersalin (1 orang), puskesmas (1 orang) dan praktik mandiri (1 orang)

  1. Pertimbangan Ethical

–          Sebelum mendapatkan persetujuan lisan dari responden (subyek penelitian), terlebih dahulu mereka diberikan penjelasan mengenai tujuan, sasaran dan metodologi penelitian.

–          Izin etik untuk penelitian terlebih dahulu diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Semarang serta izin dari pimpinan perusahaan atau instansi yang staffnya terlibat dalam penelitian tersebut.

  1. Definisi Operasional

Definisi operasional mengenai masing-masing variabel (pengetahuan, sikap, motivasi dan minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA) telah dijelaskan secara jelas dan terperinci, meliputi definisi umum, sasaran penelitian, apa saja yang diteliti, skoring data masing-masing variabel, jumlah pertanyaan yang akan diajukan untuk masing-masing variabel, skala pengukuran data serta kategori pengumpulan data.

  1. Metodologi

“Jenis penelitian yang digunakan adalah observasi dengan metode survey dan pendekatan waktu cross sectional”

–          Jenis penelitian yang digunakan adalah observasi dengan metode survey yang bersifat survey analitikyaitu suatu menelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi, kemudian dilakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena baik antara variabel bebas maupun variabel terikat sehingga dapat diketahui seberapa jauh kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat dan bersifat penjelasan.

–          Analisis data kuantitatif menggunakan analisis univariat, analisis bivariat (korelasi Product Momment), analisis multivariat (uji statistik Regresi Ganda).

–          Analisis data kualitatif mengguakan analisis isi (Content Analysis).

–          Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, dan daftar pedoman wawancara. Berdasarkan tujuan dari penelitian dan informasi apa yang ingin dikumpulkan menurut penelaah instrumen yang digunakan sudah sesuai.

–          Pengujian reliabilitas dan validitas telah disebutkan dengan jelas, yaitu uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan uji reliabilitas data menggunakan uji Statistik Cronbach Alpa.

  1. Data Analisis/Hasil

–          Analisis statistik yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif.

–          Jumlah sampel yang berpartisipasi dari 414 bidan yang berpendidikan minimal D3 kebidanan dan tinggal di kota Semarang, dipilih secara acak (random), terpilih 134,9 yang dibulatkan menjadi 135 responden yaitu 69 orang berstatus PNS, 3 orang berstatus PTT dan 63 orang berstatus swasta/ mandiri.

–          Hasil penelitian:

  • Sejumlah 94 orang (69,6%) mempunyai tingkat pengetahuan sedang, sejumlah 23 orang (17,0%) mempunyai tingkat pengetahuan rendah dan 18 orang (13,3%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi.
  • Sejumlah 97 orang (71,9%) memiliki sikap sedang, 23 orang (17% mempunyai sikap rendah dan 15 orang (11,1%) memiliki sikap tinggi.
  • Sejumlah 86 orang (63,7%) memiliki motivasi sedang, 25 orang (18,5%) memiliki motivasi tinggi dan 24 orang (17,8%) memiliki motivasi rendah.
  • Sejumlah 80 orang (59,3%) memiliki minat rendah untuk mengikuti uji kompetensi OSCA dan 55 orang (40,7%) memiliki minat tinggi untuk mengikuti uji kompetensi OSCA.
  • Faktor yang berhubungan dengan minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA adalah pengetahuan (nilai r: 0,297 dan p value: 0,001), sikap (nilai r: 0,273 dan p value: 0,001) dan motivasi (nilai r: 0,202 dan p value: 0,019).
  • Pengetahuan dan sikap secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA. Variabel pengetahuan memiliki nilai b= 0,240, nilai t= 2,836 dan p value sebesar 0,005 (p< 0,05), sedangkan variabel sikap memiliki nilai b=0,207, nilai t=2,441 dan p value sebesar 0,016 (p< 005). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif variabel pengetahuan dan sikap terhadap minat.

 

  1. Pembahasan Temuan Hasil Penelitian

Kelebihan:

  1. Kekuatan asosiasi

“Hasil studi tentang Minat Dosen untuk melakukan Penelitian yang dilakukan oleh Tanti Handriana3 menunjukkan bahwa sikap dalam melakukan penelitian dan norma subyektif meliputi motivasi dosen untuk menuruti saran kelompok referen agar melakukan penelitian menentukan minat dosen untuk penelitian. Disamping itu, penelitian tentang Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa untuk Mengikuti Pendidikan profesi Akuntansi (PPA) di Karisidenan Surakarta oleh Sri Suranta dan Muhammad Syafiqurrahman menunjukkan bahwa faktor motivasi karir dan motivasi kualitas mempengaruhi minat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan4.”

Besarnya pengaruh motivasi pada diri seseorang terhadap minat dapat dilihat dari tingginya prevalensi motivasi yang juga ditemukan pada berbagai penelitian sebelumnya.

  1. Efek dosis respon

“Pengetahuan dan sikap secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA. Variabel pengetahuan memiliki nilai b= 0,240, nilai t= 2,836 dan p value sebesar 0,005 (p< 0,05), sedangkan variabel sikap memiliki nilai b=0,207, nilai t=2,441 dan p value sebesar 0,016 (p< 005). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif variabel pengetahuan dan sikap terhadap minat.”

Dalam penelitian ini, minat bidan mengikuti uji kompetensi lebih tinggi pada responden yang memiliki pengetahuan dan sikap yang tinggi. Artinya adanya pengaruh positif pengetahuan dan sikap terhadap minat.

  1. Spesifikasi

Hubungan kausal dalam hal specicity, meskipun minat mengikuti uji kompetensi sebesar 40,7% pada subyek yang diteliti, namun pengontrolan terhadap faktor-faktor lain yang ikut berpengaruh tidak dilakukan.

  1. Plausability

Pada penelitian ini, unsur kausalitas dalam hal boilogical plausibility terpenuhi sebab minat bidan mengikuti uji kompetensi sangat rasional dengan pengetahuan, sikap dan motivasi.

  1. Koherensi/kesesuaian

Pada penelitian ini, unsur coherence/kesesuaian terpenuhi dalam hal pemilihan subjek dimana responden (bidan minimal pendidikan D3 Kebidanan) memang tepat dijadikan sasaran sebagai subyek penelitian unyuk melihat minat bidan mengikuti uji kompetensi OSCA.

  1. Bukti eksperimen

Penelitian ini bukan merupakan experimental study.

  1. Analogi

Pada penelitian ini, unsur kausalitas dalam hal analogi terpenuhi sebab terdapat beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh motivasi terhadap minat mahasiswa.

“Pengaruh motivsi terhadap minat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan profesi akuntansai (PPA) di Karisidenan Surakartan yang dilakukan oleh Sri Suranta dan Muhammad Syafiqurrahman10.”

Pembahasan hasil temuan dikaitkan kembali dengan berbagai hasil temuan sebelumnya dari tinjauan pustaka yang diambil, baik yang hasil temuannya berkorelasi dengan hasil yang didapatkan atau tidak.

Kekurangan:

  1. Kekuatan dan keterbatasan penelitian termasuk generalisasi tidak dijelaskan dalam jurnal tersebut.
  2. Jurnal ini juga tidak memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.
  3. Menurut penelaah rekomendasi sebaiknya diberikan kepada peneliti selanjutnya mengenai variabel-variabel apa saja yang tidak diteliti berkaitan dengan uji kompetensi OSCA.
  4. Referensi

Literatur yang digunakan sekitar 50 % menggunakan literatur terbaru yang berasal dari jurnal-jurnal yang telah dipublikasikan sebelumnya.

 

  1. Kesimpulan dan Saran
    1. Kelebihan

–          Isi kesimpulan merupan jawaban dari tujuan penelitian.

–          Kesimpulan ringkas, jelas dan padat

–          Peneliti memberi rekomendasi atau saran kepada instansi terkait yang berhubungan dengan penelitiannya

  1. Kekurangan

–          Tidak mencantumkan saran untuk peneliti selanjutnya.

–          Tidak mencantumkan saran yang merupakan harapan peneliti.

 

  1. Penutup

Sebagai penutup, meskipun ditemukan berbagai kekurangan dan kelebihan dalam penelitian tersebut, namun penelitian tersebut telah memberikan konribusi positif pada kemajuan dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan khususnya pada perkembangan karya ilmiah.

 

Smoga bermanfaat…:)

 

untuk lebih jelas bisa dapatkan jurnal di  uji kompetensi bidan

Critical Journal “Evaluation of Hematological Parameters in Partial Exchange and Packed Cell Transfusion in Treatment of Severe Anemia in Pregnancy”

“LITERATURE REVIEW”

Evaluation of Hematological Parameters in Partial Exchange and Packed Cell Transfusion in Treatment of Severe Anemia in Pregnancy

 

Metode Pencarian Literatur:

–          Database yang digunakan                   : PUBMED (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22693662)

–          Kata kunci pencarian                          : Anemia Pregnancy

–          Jumlah literatur yang didapatkan        :  14917

 

Abstrak

Konteks:

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia yang mengasumsikan menonjol pada ibu hamil. Pasien dengan anemia berat terus terjadi dalam kehamilan.

 

Tujuan:

Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan perbaikan dalam parameter hematologi pasien yang menerima transfusi darah pertukaran parsial dan transfusi sel dikemas tanpa pertukaran.

 

Metode:

Seratus dua puluh lima ibu antenatal parah anemia dirawat dari layanan rawat jalan. Transfusi tukar parsial diberikan kepada enam puluh enam pasien sementara lima puluh sembilan transfusi menerima sel dikemas dengan penutup frusemid.

 

Pengaturan dan Desain:

 

Hasil Penelitian:

Kedua kelompok adalah sebanding dalam hal usia, tinggi, berat, agama, makanan, pendidikan, pekerjaan diri dan suami, dan pendapatan. Hemoglobin tingkat di Grup 1 adalah relatif kurang dari Kelompok 2 di prelevel (5,2 ± 1,5 vs 6,6 ± 2,3, P = 0,001) dan postlevel (7,2 ± 1,5 vs 8,6 ± 1,8, P = 0,001), masing-masing, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua mode transfusi (2,09 ± 1,6 vs 2,01 ± 1,5, P = 0,78).

 

Kesimpulan:

Penelitian ini menghasilkan peningkatan sama signifikan dalam parameter hematologi dalam pertukaran parsial dan transfusi sel dikemas. Jumlah trombosit secara signifikan lebih kecil dalam pertukaran parsial dibandingkan dengan transfusi sel dikemas.

 

 

Deskrpsi Umum Jurnal

Judul                                : Evaluation of Hematological Parameters in Partial Exchange and Packed Cell Transfusion in Treatment of Severe Anemia In Pregnancy

Penulis                         : Sudha Salhan, Vrijesh Tipathi, Rajvir Singh, and Harsha S. Gaikwad

Publikasi                      : PUBMED (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22693662)

Penelaah                      : Widiastuti Endah Febrianti (P 27224012085)

Tanggal Telaah            : 28 Juni 2012

 

  1. Deskripsi Jurnal
    1. Tujuan Utama Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan perbaikan dalam parameter hematologi pasien yang menerima transfusi darah pertukaran parsial dan transfusi sel dikemas tanpa pertukaran

  1. Hasil Penelitian

Kedua kelompok adalah sebanding dalam hal usia, tinggi, berat, agama, makanan, pendidikan, pekerjaan diri dan suami, dan pendapatan. Hemoglobin tingkat di Grup 1 adalah relatif kurang dari Kelompok 2 di prelevel (5,2 ± 1,5 vs 6,6 ± 2,3, P = 0,001) dan postlevel (7,2 ± 1,5 vs 8,6 ± 1,8, P = 0,001), masing-masing, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua mode transfusi (2,09 ± 1,6 vs 2,01 ± 1,5, P = 0,78).

  1. Kesimpulan Penelitian

Penelitian ini menghasilkan peningkatan sama signifikan dalam parameter hematologi dalam pertukaran parsial dan transfusi sel dikemas. Jumlah trombosit secara signifikan lebih kecil dalam pertukaran parsial dibandingkan dengan transfusi sel dikemas.

 

  1. Telaah Jurnal
    1. Fokus Utama Penelitian

Anemia has an estimated global prevalence of 42% among pregnant women. It is estimated that anemia causes more than 115000 maternal and 591000 perinatal deaths globally per year [1]. The baseline measure of hemoglobin concentration that categorizes anemia is less than 7.0g/dL for severe anemia, 7.0–9.9g/dL for moderate anemia, and 10.0–11.9g/dL for mild anemia [2]. The estimated prevalence of anemia among pregnant women in India is higher than the global prevalence at 49.7% [3]. According to survey data, 84.9% of pregnant women are anemic with 60.1% having moderate anemia and 13.1% having severe anemia [4]. A study recorded that the prevalence of anemia in pregnant women and children among slum dwellers in Delhi was as high as 80.6% and 93.3%, respectively [5]. Anemia has been identified as a public health problem yet the problem is accentuated when pregnant women present themselves with severe anemia late in labor.

Berdasarkan kutipan dari bagian pendahuluan diatas diketahui bahwa Anemia memiliki prevalensi global diperkirakan 42% di kalangan wanita hamil. Diperkirakan bahwa anemia menyebabkan lebih dari 115000 kematian ibu dan perinatal 591000 global per tahun. Ukuran dasar dari konsentrasi hemoglobin yang mengkategorikan anemia kurang dari 7.0g/dL untuk anemia parah, 7.0-9.9g/dL untuk anemia sedang, dan 10.0-11.9g/dL untuk anemia ringan. Estimasi prevalensi anemia pada ibu hamil di India lebih tinggi dari prevalensi global pada 49,7%. Menurut data survei, 84,9% wanita hamil mengalami anemia dengan 60,1% mengalami anemia sedang dan 13,1% memiliki anemia berat. Sebuah studi mencatat bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil dan anak-anak di antara penghuni kawasan kumuh di Delhi setinggi 80,6% dan 93,3%, masing-masing. Anemia telah diidentifikasi sebagai masalah kesehatan masyarakat namun masalah ini ditekankan ketika wanita hamil menampilkan diri dengan anemia berat akhir tenaga kerja.

 

  1. Elemen yang Mempengaruhi Tingkat Kepercayaan Suatu Penelitian
    1. Gaya Penulisan

–          Sistematika penulisan telah tersusun dengan baik dan jelas mulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak (konteks, tujuan penelitian, desain penelitian, bahan dan metode, analisis statistik, hasil, kesimpulan, dan kata kunci), pendahuluan, bahan dan metode, hasil pembahasan, kesimpulan dan refrensi.

–          Tata bahasa yang digunakan dalam penulisan jurnal ini cukup mudah dipahami sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti bagaimana penelitian tersebut dilaksanakan dan apa hasil yang diperoleh.

  1. Penulis

–          Penulis dalam penelitian ini berasal Departemen Obstetri & Ginekologi, Hamdard Institute of Medical Sciences & Research, New Delhi 110062, India, yaitu Sudha Salhan, Vrijesh Tipathi, Rajvir Singh, and Harsha S. Gaikwad.

–          Gelar akademik dari penulis sudah benar karena tidak di cantumkan

–          Menurut penelaah, dengan melihat latar belakang departemen penulis berasal, penulis tersebut mempunyai kualifikasi yang cukup di bidang yang ia teliti.

  1. Judul

“Evaluation of Hematological Parameters in Partial Exchange and Packed Cell Transfusion in Treatment of Severe Anemia in Pregnancy”

–          Judul penelitian cukup jelas, akurat, tidak ambigu, menggambarkan apa yang diteliti

–          Judul penelitian memenuhi prinsip 5W1H karena tidak menampilkan tempat penelitian dan waktu penelitian.

  1. Abstrak

Kelebihan:

–          Abstrak mampu menggambarkan secara jelas mengenai masalah penelitian, tujuan penelitian, metodologi dan hasil yang didapatkan, serta menyebutkan rekomendasi atau saran yang diberikan kepada pihak-pihak yang terkait atau berkepentingan dalam penelitian ini.

–          Memenuhi IMRAD (Introduction, Metode, Result, Analize, Discussion)

Kekurangan:

–          Jumlah kata dalam abstrak melebihi 250 kata.

–          Tidak mencatumkan metode pengolahan dan analisis data yang digunakan.

–          Tidak memberikan saran yang ditujukan kepada penelitian selanjutnya.

–          Tidak menyebutkan kata kunci.

  1. Elemen yang Mempengaruhi Kekuatan Suatu Penelitian
    1. Tujuan/Masalah Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah untuk untuk untuk membandingkan perbaikan dalam parameter hematologi pasien yang menerima transfusi darah pertukaran parsial dan transfusi sel dikemas tanpa pertukaran.

  1. Konsistensi Logis

Laporan penelitian telah mengikuti langkah-langkah yang seharusnya yaitu dimulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak (konteks, tujuan penelitian, pengaturan dan desain, bahan dan metode, analisis statistik, hasil, kesimpulan dan kata kunci), pendahuluan, bahan dan metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan catatan kaki.

  1. Literatur Review

–          Penyusunan literatur menggunakan sistem vancouver dan terorganisir dengan logis.

–          Penulisan jurnal menggunakan analitis kritis berdasarkan literatur yang ada dengan membandingkan temuan-temuan pada penelitian sebelumnya dengan hasil yang didapatkan oleh penulis.

Contoh kutipan Jurnal:

“Various studies have assessed the association between severe anemia and maternal mortality. Brabin et al. in a review used cross-sectional, longitudinal, and case-control studies and found a strong association between severe anemia and maternal mortality. However, the association was not as strong for mild or moderate anemia [6]. Harrison found that both maternal and fetal mortality rise sharply in cases of severe anemia. The causes for maternal death were due to anemic heart failure, fulminating bacterial infection, and shock from even a small loss of blood at delivery or abortion [7]. Severe anemia was associated with a fourfold increase in risk of death in a study by Fullerton and Turner [8].”

–          Literatur yang digunakan hanya sekitar 50% literatur terbaru yang berasal dari jurnal-jurnal yang telah dipublikaikan sebelunya.

  1. Theoritical Kerangka

Baik kerangka konseptual maupun kerangka teori tidak digambarkan secara jelas dalam jurnal penelitian tersebut, namun pada bagian pembahasan, tinjauan pustaka mengenai perbaikan dalam parameter hematologi pasien yang menerima transfusi darah pertukaran parsial dan transfusi sel dikemas tanpa pertukaran.

  1. Tujuan/Sasaran/Pertanyaan Penelitian/Hipotesis

Tujuan dan sasaran penelitian terdapat dalam pendahuluan jurnal tersebut, namun tidak diberikan judul khusus sehingga penelaah mengambil sendiri tujuan tersebut setelah membaca pembahasan dalam jurnal tersebut yaitu :

“This study was conducted to compare the improvements in hematological parameters of patients receiving partial exchange blood transfusion and transfusion of packed cells without exchange.”

  1. Sampel

“One hundred and twenty-five severely anemic antenatal mothers were recruited from the outpatient service and Emergency Department. Sixty-six patients with severe anemia who presented themselves in one of the units of the Department were administered partial exchange. In the other units there were fifty-nine patients with severe anemia which were given transfusion of packed cells with frusemide cover during the same time period.”

–          Penelitian ini merupakan studi retrospektif komparatif dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Safdarjung Hospital, New Delhi, India, selama periode Juni 2009 dan Januari 2011.

–          Seratus dua puluh lima ibu antenatal parah anemia direkrut dari layanan rawat jalan dan gawat darurat. Enam puluh enam pasien dengan anemia berat yang mempresentasikan diri di salah satu unit Departemen diberikan pertukaran parsial. Dalam unit lain ada lima puluh sembilan pasien dengan anemia berat yang diberikan transfusi sel dikemas dengan penutup frusemid selama periode waktu yang sama. Semua parameter dicatat dari file catatan pasien saat pasien dirawat di bangsal rumah sakit.

–          Data dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok 1 terdiri dari perempuan yang menerima transfusi darah pertukaran parsial dan Kelompok 2 terdiri dari perempuan yang menerima transfusi sel dikemas dengan penutup frusemid. Penyelidikan awal telah dicatat pada Performa standar. Riwayat rinci dari pasien tercatat termasuk pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan lengkap umum pasien. Pemeriksaan obstetri rinci pasien juga dilakukan termasuk penilaian kesejahteraan janin.

 

  1. Pertimbangan Ethical

–          Sebelum mendapatkan persetujuan lisan dari responden (subyek penelitian), terlebih dahulu mereka diberikan penjelasan mengenai tujuan, sasaran dan metodologi penelitian.

  1. Definisi Operasional

Definisi operasional mengenai anemia tidak disebutkan secara jelas dalam jurnal ini.

  1. Metodologi

“This was a comparative retrospective study conducted in the Department of Obstetrics and Gynaecology of Safdarjung Hospital, New Delhi, India, during the period June 2009 and January 2011.”

–          Penelitian ini merupakan studi retrospektif komparatif dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Safdarjung Hospital, New Delhi, India, selama periode Juni 2009 dan Januari 2011.

–          Instrumen yang digunakan tidak dijelaskan dalam jurnal tersebut.

  1.  Data Analisis/Hasil

–          Analisis Statistik deskriptif dalam bentuk sarana dan standar deviasi untuk variabel interval dan frekuensi dan persentase untuk variabel kategori dihitung. Untuk melihat signifikansi statistik dalam variabel untuk sebelum dan sesudah, parametrik dan nonparametrik seperti tes Paired t-test dan Wilcoxon Sign Rank, digunakan untuk variabel interval dan tes McNemar untuk variabel kategori. Mann Whitney U test dan Independent Student t-test digunakan untuk pra-dan pasca-perbedaan dan juga antara kelompok untuk variabel Interval dimanapun berlaku. P nilai kurang dari 0,05 (dua ekor) telah dipertimbangkan untuk tingkat signifikansi statistik. SPSS 12,0 statistik Paket digunakan untuk analisis.

–          Penyajian tabel disertai penjelasan yang jelas mengenai isi tabel.

“Table 1: Sociodemographic and reproductive characteristics of anemic pregnant women.

Demographic details were recorded and are presented in [Table 1]”

–          Hasil penelitian:

  • Penelitian ini melibatkan 125 ibu antenatal. Dari mereka enam puluh enam diberi transfusi darah pertukaran parsial (Grup 1) sedangkan lima puluh sembilan diberi transfusi sel dikemas dengan penutup frusemid (Kelompok 2)..
  • Wanita dengan paritas kurang dari 2 lebih di Grup 2 daripada di Grup 1, menunjukkan bahwa ada lebih banyak perempuan dengan paritas lebih tinggi di Grup 1. Perbedaannya secara statistik signifikan.
  • Kedua kelompok adalah sebanding dalam hal usia, tinggi, berat, agama, makanan, pendidikan, pekerjaan diri dan suami, dan pendapatan. Hemoglobin tingkat di Grup 1 adalah relatif kurang dari Kelompok 2 di prelevel (5,2 ± 1,5 vs 6,6 ± 2,3, P = 0,001) dan postlevel (7,2 ± 1,5 vs 8,6 ± 1,8, P = 0,001), masing-masing, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua mode transfusi (2,09 ± 1,6 vs 2,01 ± 1,5, P = 0,78).
  • Darah transfusi tukar parsial dan transfusi sel dikemas dengan penutup frusemid adalah mode sebanding transfusi antara perempuan sangat maju anemia pada kehamilan.

 

 

  1. Pembahasan Temuan Hasil Penelitian

Kelebihan:

  1. Kekuatan asosiasi

“Various studies have assessed the association between severe anemia and maternal mortality. Brabin et al. in a review used cross-sectional, longitudinal, and case-control studies and found a strong association between severe anemia and maternal mortality. However, the association was not as strong for mild or moderate anemia [6]. Harrison found that both maternal and fetal mortality rise sharply in cases of severe anemia. The causes for maternal death were due to anemic heart failure, fulminating bacterial infection, and shock from even a small loss of blood at delivery or abortion [7]. Severe anemia was associated with a fourfold increase in risk of death in a study by Fullerton and Turner [8]..”

Berbagai penelitian telah menilai hubungan antara anemia berat dan kematian ibu. Brabin dkk. di review digunakan cross-sectional, longitudinal, dan studi kasus-kontrol dan menemukan hubungan yang kuat antara anemia berat dan kematian ibu. Namun, asosiasi itu tidak sekuat untuk anemia ringan atau sedang. Harrison menemukan bahwa kenaikan angka kematian ibu dan janin baik tajam dalam kasus anemia parah. Penyebab kematian ibu adalah karena gagal jantung anemia, fulminan infeksi bakteri, dan shock bahkan dari kerugian kecil darah saat melahirkan atau aborsi. Anemia berat dikaitkan dengan peningkatan empat kali lipat risiko kematian dalam studi oleh Fullerton dan Turner.

  1. Hubungan Temoporal

” Women often become anemic during pregnancy because of the increase in demand for iron and other vitamins in the body. It is estimated that the blood volume increases approximately 50 per cent during pregnancy, although the plasma amount is disproportionately greater. This causes dilution of the blood, making the hemoglobin concentration fall, with hemoglobin concentration at its lowest between weeks 25 and 30.”

Terjadinya faktor kausa yang mendahului terjadinya akibat atau penyakit, contohnya : Perempuan sering menjadi anemia selama kehamilan karena peningkatan permintaan untuk besi dan vitamin lain dalam tubuh. Diperkirakan bahwa volume darah meningkat sekitar 50 persen selama kehamilan, meskipun jumlah plasma tidak proporsional lebih besar. Hal ini menyebabkan pengenceran darah, membuat jatuhnya konsentrasi hemoglobin, dengan konsentrasi hemoglobin pada titik terendah antara minggu 25 dan 30.

  1. Efek dosis respon

Tidak ada efek dosis respon sebab penelitian ini bukan eksperimen sehingga tidak ada intervensi.

  1. Spesifikasi

Hubungan kausal dalam hal specicity, meskipun darah transfusi tukar parsial dan transfusi sel dikemas dengan penutup frusemid adalah mode sebanding transfusi antara perempuan sangat maju anemia pada kehamilan, namun pengontrolan terhadap faktor-faktor lain yang ikut berpengaruh tidak dilakukan.

  1. Plausability

Pada penelitian ini, unsur kausalitas dalam hal boilogical plausibility terpenuhi sebab terjadinya anemia pada ibu hamil karena permintaan peningkatan zat besi dan vitamin dalam tubuh.

  1. Koherensi/kesesuaian

Pada penelitian ini, unsur coherence/kesesuaian terpenuhi dalam hal pemilihan subjek dimana responden (ibu antenatal dengan anemi berat) memang tepat dijadikan sasaran sebagai subyek penelitian untuk membandingkan perbaikan dalam parameter hematologi pasien yang menerima transfusi darah pertukaran parsial dan transfusi sel dikemas tanpa pertukaran.

  1. Bukti eksperimen

Penelitian ini bukan merupakan experimental study.

  1. Analogi

Pada penelitian ini, unsur kausalitas dalam hal analogi terpenuhi sebab terdapat beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh motivasi terhadap minat mahasiswa.

“Various studies have assessed the association between severe anemia and maternal mortality. Brabin et al. in a review used cross-sectional, longitudinal, and case-control studies and found a strong association between severe anemia and maternal mortality. However, the association was not as strong for mild or moderate anemia [6]. Harrison found that both maternal and fetal mortality rise sharply in cases of severe anemia. The causes for maternal death were due to anemic heart failure, fulminating bacterial infection, and shock from even a small loss of blood at delivery or abortion [7]. Severe anemia was associated with a fourfold increase in risk of death in a study by Fullerton and Turner [8].”

Pembahasan hasil temuan dikaitkan kembali dengan berbagai hasil temuan sebelumnya dari tinjauan pustaka yang diambil, baik yang hasil temuannya berkorelasi dengan hasil yang didapatkan atau tidak.

Kekurangan:

  1. Kekuatan dan keterbatasan penelitian termasuk generalisasi tidak dijelaskan dalam jurnal tersebut.
  2. Jurnal ini juga tidak memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.
  3. Menurut penelaah rekomendasi sebaiknya diberikan kepada peneliti selanjutnya mengenai variabel-variabel apa saja yang tidak diteliti berkaitan dengan penyebab anemia.
  4. Referensi

Literatur yang digunakan sekitar 50 % menggunakan literatur terbaru yang berasal dari jurnal-jurnal yang telah dipublikasikan sebelumnya.

 

  1. Kesimpulan dan Saran
    1. Kelebihan

–          Isi kesimpulan merupan jawaban dari tujuan penelitian.

–          Kesimpulan ringkas, jelas dan padat

–          Peneliti memberi rekomendasi atau saran kepada instansi terkait yang berhubungan dengan penelitiannya

  1. Kekurangan

–          Tidak mencantumkan saran untuk peneliti selanjutnya.

–          Tidak mencantumkan saran yang merupakan harapan peneliti.

 

  1. Penutup

Sebagai penutup, meskipun ditemukan berbagai kekurangan dan kelebihan dalam penelitian tersebut, namun penelitian tersebut telah memberikan konribusi positif pada kemajuan dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan khususnya pada perkembangan karya ilmiah.

Smoga Bermanfaat ^.~

 

untuk lebih jelas bisa dilihat di  pubmed atau journals

Manfaat Madu dan Kayumanis

Madu adalah “obat dari Allah” dan para pakar pengobatan tradisional menemukan ampuhnya obat yang satu ini bila dikombinasi dengan kayumanis (cinnamon). Madu dikenal khasiatnya bagi kesehatan sejak berabad-abad lalu, dan jika madu dipergunakan dengan takaran yang tepat tidak akan menimbulkan efek negatif bagi penderita diabetes.

Dalam majalah Weekly World News yang terbit di Kanada, melaporkan ada beberapa penyakit yang dapat disembuhkan melalui terapi madu dan kayumanis, yaitu:

RADANG SENDI

Campurkan satu bagian madu dengan dua bagian air hangat lalu tambahkan sedikit bubuk kayu manis agar campuran itu berbentuk pasta.

Setelah jadi pasta, lalu oleskan perlahan-lahan di bagian tubuh yang mengalami nyeri. Setelah itu, dalam waktu satu atau dua menit rasa nyeri itu mulai reda.

Penederita radang sendi setiap hari, pada pagi dan malam hari, juga bisa memanfaatkan campuran secangkir air hangat dengan dua sendok madu dan sesendok the bubuk kayumanis. Penderita radang sendi akutpun bisa sembuh bila meminum ramuan ini secara teratur. Semoga……

RAMBUT RONTOK

Bagi anda yang mengalami rambut rontok ataupun kebotakan, cobalah ramuan ini. Keramaslah dengan campurkan minyak zaitun, sesendok makan madu, satu sendok teh bubuk kayumanis. Biarkan selama kira-kira 5-15 menit baru dibilas dengan air.

INFEKSI KANDUNG KEMIH

Minumlah segelas air hangat yang telah dicampur dengan dua sendok makan bubuk kayumanis dan sesendok teh madu. Ramuan ini dapat membunuh kuman penyebab infeksi kandung kemih.

SAKIT GIGI

Cobalah mengatasi sakit gigi dengan mengoleskan campuran 1 sendok teh bubuk kayumanis dengan 5 sendok teh madu. Oleskan campuran ini 3 kali sehari hingga rasa sakitnya berhenti.

MENURUNKAN KADAR KOLESTEROL

Anda merasa kadar kolesterol tinggi? Cobalah campurkan 2 sendok makan madu, 3 sendok makan bubuk kayumanis dan campurkan dengan secangkir air teh. Ramuan ini dapat menurunkan 10% kadar kolesterol dalam darah, dalam kurun waktu 2 jam. Lebih manjur lagi bila diminum 3x sehari bagi anda yang mengalami kelebihan kolesterol kronis. Bahkan madu murni yang diminum bersama makanan setiap hari dapat menghindari tubuh dari timbunan lemak.

MASUK ANGIN

Gangguan masuk angin berat ataupun ringan dapat diobati dengan meminum campuran 1 sendok makan madu hangat dan ¼ sendok teh bubuk kayumanis setiap hari selama 3 hari. Ramuan ini dapat menyembuhkan batuk dan flu berat serta membersihkan lendir/ingus.

SULIT PUNYA ANAK

Masyarakat Yunani zaman dahulu telah memanfaatkan madu sebagai obat untuk meningkatkan kualitas air mani. Gangguan impotensi dapat disembuhkan dengan cara secara teratur minum 2 sendok makan madu sebelum tidur.

Wanita di Cina, Jepang dan negara-negara Timur. Jauh sejak berabad-abad llau telah menggunakan kayumanis untuk meningkatkan kesuburannya. Wanita yang sulit hamil dan bermaksud memperkuat rahim telah berabad-abad memanfaatkan kayumanis untuk mengatasi masalah tersebut.

Wanita yang sulit hamil dapat menggunakan sedikit bubuk kayumanis yang dicampurkan dengan setengan sendok makan madu yang kemudian dicampurkan ke dalam permen karet, yang terus dikunyahnya sepanjang hari. Sehingga sedikit demi sedikit ramuan ini akan bercampur dengan air liur lalu masuk kedalam tubuh.

Ramuan ini pernah dimanfaatkan oleh sepasang suami isteri di Maryland, Amerika yang juga belum punya anak setelah 14 tahun menikah. Mereka kemudian mulai memanfaatkan madu dan kayumanis. Beberapa bulan kemudian akhirnya isterinya bisa hamil dan melahirkan anak kembar.

GANGGUAN PERUT

Ramuan madu dan bubuk kayumanis dapat menyembuhkan sakit perut dan juga membersihkan luka-luka di perut. Menurut hasil penelitian di India, dan Jepang, campuran madu dan kayumanis dapat mengeluarkan gas dari perut supaya perut tidak kembung.

PENYAKIT JANTUNG

Makanlah roti yang telah dioleskan dengan campuran madu dan bubuk kayumanis secara teratur setiap hari. Ramuan ini akan menurunkan kadar kolesterol di pembuluh darah dan menyelematkan anda dari kemungkinan serangan jantung. Bagi anda yang telah mengalami serangan jantung, roti yang diolesi dengan madu dan bubuk kayumanis ini akan mencegah terjadinya kembali serangan jantung.

Ramuan ini juga dapat menyembuhkan sesak nafas dan memperkuat detak jantung.

SISTEM KEKEBALAN TUBUH

Kebiasaan sehari-hari minum campuran madu dan bubuk kayumanis akan memperkuat sistem kekebalan tubuh dan melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus. Riset yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan menemukan, bahwa madu mengandung banyak vitamin dan zat besi dalam jumlah banyak. Pemanfaatan madu secara terus menerus akan memperkuat darah putih untuk melawan penyakit akibat infeksi bakteri dan virus.

AWET MUDA

Minumlah campuran teh dengan madu dan bubuk kayumanis secara teratur untuk menghambat penuaan dini. Campurkan 4 sendok madu, 1 sendok bubuk kayumanis dan 3 cangkir air lalu rebuslah menjadi semacam teh. Minumlah ¼ cangkir sebanyak 3-4 kali sehari. Manfaatnya untuk menyegarkan dan melembutkan kulit serta mengahambat proses penuaan.

JERAWAT

Bagi anda yang berjerawat, cobalah membuat pasta dari 3 sendok makan madu dan 1 sendok teh bubuk kayumanis. Oleskan pasta ini pada jerawat sebelum tidur, dan cucilah wajah anda saat bangun tidur pagi dengan air hangat. Lakukan perawatan ini setiap hari selama 2 minggu, maka jerawat pun akan hilang darai akarnya, dan wajah menjadi halus mulus.

MENURUNKAN BERAT TUBUH

Minumlah secangkir campuran madu dan bubuk kayumanis yang telah direbus, setiap pagi, 30 menit sebelum sarapan pagi saat perut masih kosong dan pada malam hari sebelum tidur. Minumlah secara teratur maka akan menurunkan berat badan bahkan untuk mereka yang mengalami obesitas sekalipun. Bahkan minum secara teratur campuran air madu dan kayumanis ini bermanfaat untuk mencegah menimbunnya lemak di dalam tubuh.

KELELAHAN

Sejumlah riset terkini membuktikan, gula yang mengandung madu membantu memperkuat daya tahan tubuh. Setengah sendok makan madu yang dicampur kedalam segelas air dan bubuhi dengan bubuk kayumanis kemudian diminum setiap hari setelah menggosok gigi dan pada sore hari sekitar jam 15.00 ketika vitalitas tubuh menurun, dapat memperbaiki meningkatkan vitalitas tubuh dalam waktu 1 minggu.

 

8 tips dan cara langsing ala wanita jepang

Jika kita lihat wanita jepang kebanyakan langsing-langsing. Sangat jarang kita melihat orang gendut di jepang (Teringat Kata-kata guru jepang saya waktu SMA). Lalu apakah masyarakat jepang menyembunyikan sebuah cara rahasia untuk menjadi langsing dari dunia ini.

Ternyata tidak! Hanya kita saja yang tidak pernah mau melihatnya. Dan apa saja itu Tips langsing ala wanita jepang? Ini dia! Baca baik-baik karena saya tidak akan mengulanginya :

8 Rahasia wanita dari jepang menjadi langsing secara alami:

1. Ikan

 Wanita jepang itu makan ikan sekitar 69 kg pertahun. Mengganti makanan daging darat dengan ikan selain salah satu cara langsing..ternyata juga dapat untuk menurukan resiko penyakit jantung.Oh ya ikan favorite mereka adalah salmon.

2. Kecap

 Masyarakat jepang juga  mengkomsumsi kecap dengan jumlah yang banyak. Dari penelitian yang ada bahkan bisa sampai 10 kali dari negara lain yang ada di dunia. Untuk tips langsing ini, Sekarang anda boleh mengatakan WOW!

Mengapa bisa menjadi cara langsing? karena kecap di masyarakat jepang memiliki kandungan rendah lemak dan kalori. Serta memiliki protein yang tinggi.

3. Buah dan sayuran segar

 Bagi anda wanita yang sering mencoba berbagai tips langing, pasti sudah tahu bahwa salah satu cara menjad langsing adalah dengan memakan Buah dan sayuran segar. Wanita jepang melakukannya….dan saatnya anda juga melakukan supaya jadi langsing.

4. Kedelai

 Cara langsing yang alami adalah memberi makanan dengan bahan dari kedelai.  Dan itu sudah menjadi wajib bagi wanita jepang.

5. Ragam makanan

 Kebanyakan masyarakat jepang memakan banyak ragam makanan. Bahkan untuk wanita jepang yang sudah tua. Mereka bisa memakan makanan yang berbeda 100 hari.  Bintang nggak tahu hubungannya dengan tips langsing, tapi cara ini boleh dicoba. Kalau gagal ya emang udah gendut kan 😀

6. Sarapan Sehat

 Kalau di sebuah negara bernama indonesia, sarapan itu pasti lebih sedikit daripada makan siang dan makan malam. Namun berbeda dengan masyarakat jepang. Porsi sarapan wanita jepang biasanya lebih banyak daripada makan siang dan malam.

Tapi kalau di pikir dengan logika. Cara langsing ini benar juga ya……….Coba deh kamu bayangkan dengan sebuah imaginasi :

Kalau sarapan dengan jumlah banyak itu kan untuk kerja dari pagi sampai siang/sore. Jadi lemak habis untuk dijadikan energi dan bukannya disimpan. Nah loh kalau waktu malam kamu makan banyak. Itu makanan buat apa? Waktu malam kan paling kebanyakan buat tidur. Jadi lemak akan tertimbun

Oh ya kalau kamu mau lebih ekstrim lagi menggunakan cara langsing wanita jepang. Cobalah makan teh hijau, semangkuk nasi, sup miso dengan tahu , rumput laut nori, dan ditambah dengan sedikit omelet, atau sepotong ikan panggang. Itu adalah makanan klasik masyarakat jepang.

7. Makan mie

 Wanita jepang konon salah satu tips langsing adalah dengan memakan mie. Pantes aja banyak berbagai jenis mie di masyarakat jepang. Contohlah Soba, Udon, Ramen, dan Somen. Untuk mie di buatan indonesia bintang kurang begitu tahu apakah cocok dengan aturan-aturan cara langsing he he. Jadi inget pas beli makanan kadaluarsa.

8. Makan nasi

 Yang terakhir dari tips langsing, adalah wanita jepang relatif makan nasi sangat sedikit. Mereka hanya makan dua mangkok kecil.

Selamat mencoba cara langsing dari wanita jepang ini

 

On the Issues of the Effectiveness of Prenatal Care: A Reply

Health Services Research, Dec, 1999, by Gordon G. Liu
THE BACKGROUND
In medical practice, the private and public health sectors both have long been promoting the use of prenatal care, in the strong belief that prenatal care is beneficial for improving birth outcomes. Contrary to people’s expectations, however, is the lack of consistent empirical evidence on the effectiveness of prenatal care in reducing low-birthweight infants and preterm births in the United States. First, a large body of empirical research has demonstrated significant variations in the responsiveness of birth outcomes to changes in prenatal care utilization (Rosenzweig and Schutz 1983; Grossman and Joyce 1990; Fiscella 1995; Frick and Lantz 1996). Moreover, observations derived from many aggregate statistics are also disappointing. Using the National Center for Health Statistics from 1981 to 1995, for example, Kogan, Martin, Alexander, et al. (1998) found a steadily increasing trend in the use of prenatal care, yet they failed to identify significant changes in the rates of low-birthweight infants and preter m births. Furthermore, evaluations of specific prenatal care expansion programs, such as Medicaid’s, provided no consistent evidence on significant reductions in the incidence of low birth weight and infant death (Piper, Ray, and Griffin 1991; Ray, Mitchel, and Piper 1997).
The substantial disputes on the effectiveness of prenatal care have prompted a series of investigations in an attempt to find better explanations. In my recent study (Liu 1998), I hypothesized that the inconsistent or insignificant observations on the relationship between prenatal care use and birth weight may be attributed in part to women’s self-selection behavior, which is hardly observable in most nonexperimental databases. If indeed the selection behavior was significant but not controlled for in a study, it is likely that the study would lead to inconsistent results. Following this notion, I estimated four birthweight production functions controlling for the selection bias, differentiated by race and geographic locations. I found that women’s self-selection behavior overall would tend to lead to an underestimation of the effectiveness of prenatal care use. I also demonstrated substantial differences in the effectiveness of care initiation across four different groups of women. These findings allowed me to draw some policy implications for differential targeting. In their commentary, Frick and Lantz (1999) provided a thorough review of this study and explored several critical questions concerning the measurement of care, the model specifications, and the policy implications. My reply follows.
THE RESPONSE
Measuring Prenatal Care
Frick and Lantz raised two important questions with regard to the measurement of prenatal care: utilization and adequacy. A large body of literature has investigated the impacts of prenatal care utilization on birth outcomes. Utilization can be measured by the time that care began, often using “the months delayed” and “the total number of visits.” Frick and Lantz noted that the months delayed would capture only the linear timing effect of care initiation, with which I agree. They went on to suggest that the potential nonlinear effects of prenatal care visits can be captured by using alternative measures such as the Kessner Index and the Adequacy of Prenatal Care Utilization (APNCU) (Kessner et al. 1973; Kotelchuck 1994). I cannot agree with this suggestion.
It is true that both the Kessner Index and the APNCU take into account the initiation and intensity of care, as well as gestational age at delivery. As a general measure of prenatal care use, these indexes are certainly more comprehensive than the timing variable of care initiation. Therefore, these comprehensive indexes should be chosen, when available, over the timing of care if we are to measure the overall effectiveness of prenatal care in improving birth outcomes.
If one’s concern, however, is to inquire whether the timing effect of care initiation is linear or nonlinear, I then believe that employing the Kessner Index or the APNCU adds little value to the use of the timing of care. Rather, I would suggest that one may simply specify a birthweight function with a nonlinear term of the time that care began. This nonlinear term will help test whether and how the effect of delaying the initiation of care changes over time, which indeed is a worthwhile research issue. This exercise also offers very intuitive and insightful policy implications concerning the dynamic timing effect of prenatal care initiation. Furthermore, if one is interested in testing whether the timing effect of care initiation is a function of the intensity of prenatal care visits, again using the Kessner Index or the APNUC versus the timing of care would make little difference in addressing the underlying question. In this case, including some interaction terms of the timing and the number of visits may be helpful, permitting a straightforward test of the interactive relationship between the timing and the intensity of prenatal care visits (Warner 1995).
The second point made by Frick and Lantz is that utilization measures of prenatal care focus on the timing and use of care, providing little information on the content or process of care. An implication of this statement is that an evaluation of prenatal care based on utilization measures would be insufficient or inaccurate in addressing the true effectiveness of prenatal care because of the failure to control for the content of care. Although I fully agree with their statement, I would challenge researchers to think one step further: What can we do about it then? Many previous researchers, in fact, have noted the heterogeneous nature of care in terms of its contents or quality as well as variations in outcomes among different providers at various settings. Consequently, some questions have been raised regarding the extent to which measures of prenatal care utilization alone could explain the variations in birth outcomes (Misra and Guyer 1998). I believe that these questions in essence are an issue of quantity versus quality of care in explaining birth outcomes, which is common to any assessment of healthcare interventions.
To help address this issue, one can conduct an effectiveness analysis of alternative prenatal care models with different contents of care, while simultaneously controlling for the quantity of care using utilization measures. For example, Kogan et al. (1994) showed that receiving of all the recommended advice during women’s first two visits, considered as a good quality component of prenatal care, would result in a significant reduction in the risk of having a low-birthweight infant, after controlling for the utilization of care using the Kessner Index. All of the recommended initial prenatal care procedures, in contrast, were not found to be associated with the risk of delivering a low-birthweight infant. Kogan and colleagues concluded that the quality of care measured by health behavior advice was independent of the quantity of care defined in predicting the risk of a low-birthweight infant. Nevertheless, a birth outcome function that treats utilization and contents of care simultaneously would be worth inv estigating, because such an exercise provides valuable information on how birth outcomes would respond to changes in utilization of care with given contents or to changes in the contents of care while holding the utilization level constant. Such information would be very insightful for advancing our understanding of the heterogeneous effects of prenatal care under different settings and conditions.
Specification of the Birthweight Production Function
Frick and Lantz were also concerned with the inclusion and exclusion criteria in specifying the prenatal care demand function and the birthweight production function in my study. Basically, they argued that the educational variables in the birthweight production function may capture the effects of some other health behavior variables. Their underlying assumption is that education is unlikely to affect birth outcomes directly, but indirectly it will affect birthweight production through its influence on one’s demand for various biological and medical inputs. Therefore, a significant educational effect in the birthweight production function does not necessarily indicate a direct cause of the result. This argument led them to recommend that policies to improve outcomes cannot be directed toward educational efforts without knowing the reason for the effect of education.
I agree with them that the effects of education may capture the effects of some other omitted variables in the birthweight production function. However, I have some reservations concerning their policy recommendation for two reasons. First, the effects of education on health can be both direct and indirect. Following Grossman’s seminal work on the theory of demand for health (Grossman 1972), a series of health economics studies has extensively investigated this important issue. While not completely conclusive, most of the studies indicate that education can contribute to health in two ways: by improving one’s allocative efficiency and one’s productive efficiency (Kenkel 1991). The former refers to the indirect effects as education increases people’s demand for health inputs, which in turn can produce a better health outcome. The latter refers to the direct effects as education improves the marginal productivity of the given health inputs in producing health outcomes. As Frick and Lantz pointed out in their c ommentary, for example, better-educated individuals may be able to use the same health-related knowledge more efficiently. In fact, testing the direct and indirect effects of education was an objective of my study, which shows strong supportive evidence for both the direct and indirect effects. Kenkel (1991) also demonstrated that most of the effects of schooling on health behavior still remain even after controlling for differences in health knowledge, which mainly improves the household’s allocative efficiency in producing health.
Second, because of data limitations in my study, I was unable to directly measure some unhealthy behavioral variables such as parental smoking and alcohol or drug abuse. Since these behavioral variables have been well identified as a function of parental education (allocative efficiency), it was precisely my intention to use education as a good proxy for these important but unobserved risk factors. Therefore, the observed effect of education in the birthweight production function could well represent a combination of both the direct and indirect effects. Given that this is the case, it is true that I was limited to further quantify the magnitude of the direct and indirect effects. However, this limitation gives no sufficient reasons that would suggest that policies cannot be directed toward improving birth outcomes through educational efforts, as long as education remains positively effective in shaping one’s health behavior.
Four Birthweight Production Functions
In my study I hypothesized that prenatal care effectiveness may vary with different cohorts of women. Underlying this hypothesis has been the assumption that the effectiveness of care is unlikely to be homogeneous for all women because of individual differences in many aspects. These individual differences can be demographic, socioeconomic, or biological. In order to control for these potential individual differences, I examined the effectiveness of care in the context of four birthweight functions for urban whites, urban African Americans, rural whites, and rural African Americans. Supported with a statistical test of the model specification (Chow 1960), this study in fact did find some substantial differences in the effectiveness of care across the four specified groups of women. Concerning policy implications from the results, Frick and Lantz warned that the differentiated effectiveness of care for different groups of women may not serve as the basis for differential policy targeting. Instead, they argued that these findings should prompt discussions of other factors that influence the level of effectiveness. I fully agree with the latter. They made an excellent point concerning the extent to which the race- and residence-specific birthweight functions in my study were unable to measure all potentially important factors due to data limitations. Those unmeasured factors include the quality of care and some individual risk variables such as comorbidity, including asthma, diabetes, hypertension, and renal disease (Misra and Guyer 1998). Some of these unmeasured factors may have contributed to the observed differences in the effectiveness of care. That is, the observed differences in the effectiveness of care may in part reflect the differences in those unmeasured factors among different groups. In the case of this variation in quality of care, Frick and Lantz suggested that varying or standardizing the content or quality of care accordingly would be a necessary policy effort in attempting to improve birth outcomes.
Although this may well be the case, it should not necessarily preclude the mechanism by which one group can still gain more than another from the timing of care according to our results, regardless of the quality or content of care. This is because, as we assessed the differences in the effectiveness of care, the quality of care would either stay constant or vary across the defined groups of women. In the former case, where the overall quality of care was not significantly different across racial groups or geographic locations, the finding of different levels of effectiveness of care for different groups of women can serve as a legitimate basis for differential targeting. In the latter case, where the quality of care differed across groups, then varying the quality or quantity of care accordingly should work as two complementary strategies to improve birth outcomes (Warner 1995). Furthermore, the quality of care may be independent of the quantity of care in predicting the risk of poor birth outcomes, as note d by Kogan et al. (1994). If so, the marginal productivity of the quantity of care will not diminish as the quality of care is improved. Moreover, even if the quantity of care and the quality of care were not independent, then the identified differences in the effectiveness of care should have captured some partial differences in the quality of care. Under this scenario, the differentiated effectiveness of care can be considered as a revealed measure of the responses of different groups of women to a change in the timing of care at whatever the given level of quality or content. In any case, I find it difficult to have it follow that the identified marginal productivity of prenatal care initiation will diminish when other variables exist that may also play a role in the simultaneous determination of a birth weight production function.
CONCLUDING REMARKS
Prenatal care has remained the most frequently cited preventive care in the United States, after general medical examination (Schappert 1997), despite the fact that empirical research findings are far from conclusive on the effectiveness of the care. In searching for new evidence, two major approaches are likely to define the direction of future research. Under one approach, some researchers (especially health economists) will tend to emphasize and thus try to control for the role of selection bias in estimating the effectiveness of prenatal care (e.g., Grossman and Joyce 1990;Joyce 1994; Frick and Lantz 1996; Liu 1998). Underlying this approach is the assumption that women who use more or better prenatal care may be significantly different from their counterparts in terms of some hard-to-measure factors that may contribute both to women’s self-selection of prenatal care use and birth outcomes. Therefore, minimization or controlling for such self-selection effects will be a research focus in an attempt to ide ntify the true effectiveness of care.
In contrast, under an alternative approach, researchers may be more interested in questioning the amount of difference that can really be expected from early and more intensive care alone. The central argument underlying this question is that other factors, such as socioeconomic risks and quality or content of prenatal care, may also play equally important roles in determining birth outcomes. Thus, a major research focus in this approach will be the investigation of the responses of birth outcomes to changes in social risks and environmental conditions that may be contributed by different types of care settings, care providers, and care contents (e.g., Fink and Yano 1992; Roberts 1997; Frick and Lantz 1999; Misra and Guyer 1998).
In either approach, however, one should not underestimate the difficulty and complexity of birth outcomes studies, largely due to the non-random nature of the observational data. For ethical or economic reasons that prevent any large-scale randomization designs in the use of prenatal care services, researchers must develop innovative methods to deal with the issue of selection bias in assessing the true effectiveness of prenatal care and other important mutable determinants of birth outcomes. Previous methodological research suggests that sample selection models (e.g., Heckman 1979; Maddala 1986) and the instrumental variables (IV) techniques (e.g., Imbens and Angrist 1994; Harris and Remler 1998; Newhouse and McClellan 1998) seem to define a promising direction in accomplishing this task.
Address correspondence to Gordon G. Liu, Assistant Professor, Dept. of Pharmaceutical Economics and Policy, University of Southern California, 1540 E. Alcazar Street, Room 140, Los Angeles, CA 90033.
REFERENCES

Chow, G. C. 1960. “Tests of Equality Between Sets of Coefficients in Two Liner Regressions.” Econometrica 28 (3): 591-605.
Fink, A., and E. M. Yano. 1992. “Prenatal Programs: What the Literature Reveals.” Obstetrics & Gynecology 80 (5): 867-72.
Fiscella, K. 1995. “Does Prenatal Care Improve Birth Outcomes?” Obstetrics & Gynecology 85 (3): 468-79.
Frick, K. D., and P.M. Lantz. 1999. “How Well Do We Understand the Relationship Between Prenatal Care and Birth Weight?” Health Services Research 34 (5): 1063-73.
—–.1996. “Selection Bias in Prenatal Care Utilization: An Interdisciplinary Framework and Review of the Literature.” Medical Care Research and Review 53 (4):371-96.
Grossman, M. 1972. “On the Concept of Health Capital and the Demand for Health.” Journal of Political Economy 80 (2): 223-55.
Grossman, M., and T.Joyce. 1990. “Unobservables, Pregnancy Resolutions, and Birth Weight Production Functions in New York City.” Journal of Political Economy 98 (5): 983-1007.
Harris, K. M., and D. K. Remler. 1998. “Who Is the Marginal Patient? Understanding Instrumental Variables Estimates of Treatment Effects.” Health Services Research 33 (5): 1337-60.
Heckman, J. 1979. “Sample Selection Bias as a Specification Error.” Econometrica 47 (1): 153-61.
Imbens, G. W., and J. D. Angrist. 1994. “Identification and Estimation of Local Average Treatment Effects.” Econometrica 62 (2): 467-75.
Joyce, T. 1994. “Self-Selection, Prenatal Care, and Birth Weight Among Blacks, Whites, and Hispanics in New York City.” Journal of Human Resources 29 (3): 762-94.
Kenkel, D. S. 1991. “Health Behavior, Health Knowledge, and Schooling.” Journal of Political Economy 99 (2): 287-305.
Kessner, D. M., J. Singer, C. E., Kalk, and E. R. Schlesinger. 1973. Infant Death: An Analysis by Maternal Risk and Health Care. Washington, DC: Institute of Medicine and National Academy of Sciences.
Kogan, M. D., G. R. Alexander, M. Koteichuck, and D. A. Nagey. 1994. “Relation of the Content of Prenatal Care to the Risk of Low Birth Weight: Maternal Reports of Health Behavior Advice and Initial Prenatal Care Procedures.” Journal of the American Medical Association 271 (17): 1340-45.
Kogan, M. D.,J. A. Martin, G. R. Alexander, M. Kotelchuk, SJ. Venture, and F. D. Frigoletto. 1998. “The Changing Pattern of Prenatal Care Utilization in the United States, 1981-1995, Using Different Prenatal Care Indices.” Journal of the American Medical Association 279 (20): 1623-28.
Kotelchuck, M. 1994. “An Evaluation of the Kessner Adequacy of Prenatal Care Index and a Proposed Adequacy of Prenatal Care Utilization Index.” American Journal of Public Health 84 (9): 1414-20.
Liu, G. G. 1998. “Birth Outcomes and the Effectiveness of Prenatal Care.” Health Services Research 32 (6): 805-23.
Maddala, G. S. 1986. Limited Dependent and Qualitative Variables in Econometrics. New York: Cambridge University Press.
Misra, D. P., and B. Guyer. 1998. “Benefits and Limitations of Prenatal Care: From
Counting Visits to Measuring Content.” Journal of the American Medical Association 279 (20): 1661-62.
Newhouse, J. P., and M. B. McClellan. 1998. “Econometrics in Outcomes Research: The Use of Instrumental Variables.” Annual Review of Public Health 19: 17-34.
Piper, J. M., W. A. Ray, and M. R. Griffin. 1991. “Effects of Medicaid Eligibility Expansion on Prenatal Care and Pregnancy Outcome in Tennessee.” Journal of the American Medical Association 264 (17): 2219-23.
Ray, W. A., E. F. Mitchel, and J. M. Piper. 1997. “Effect of Medicaid Expansions on Preterm Birth.” American Journal of Preventive Medicine 13 (4): 292-97.
Roberts, E. 1997. “Neighborhood Social Environments and the Distribution of Low Birthweight in Chicago.” American Journal of Public Health 87 (4): 597-603.
Rosenzweig, M. R., and T. P. Schultz. 1983. “Estimating a Household Production Function: Heterogeneity, the Demand for Health Inputs, and Their Effects on Birth Weight.” Journal of Political Economy 91(4): 723-746.
Schappert, S. M. 1997. “Ambulatory Care Visits to Physician’s Offices, Hospital Outpatient Departments, and Emergency Departments.” Vital Health Statistics 13, No. 129.
Warner, G. L. 1995. “Prenatal Care Demand and Birthweight Production of Black Mothers.” American Economic Review 85 (2): 132-137.
COPYRIGHT 1999 American College of Healthcare Executives in association with The Gale Group and LookSmart.
COPYRIGHT 2000 Gale Group

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!